Jika Anda bergerak dalam bidang manufaktur dan tengah mencari metode baru dalam mempercepat proses produksi hingga, mengurangi limbah, maupun membuat desain produk yang kompleks, maka additive manufacturing bisa jadi jawaban yang Anda butuhkan.
Secara sederhana, ini adalah 3D printing tapi dalam konteks industri. Teknologi ini menawarkan pendekatan yang berbeda dari proses manufaktur tradisional dan mulai ramai diterapkan sejak lama.
Teknologi additive manufacturing sebenarnya sudah dalam pengembangan sejak lebih dari 30 tahun lalu dan saat ini, penerapannya sudah dapat Anda temukan dalam berbagai sektor industri.
Misalnya saja, industri otomotif, alat kesehatan, fashion, bahkan hingga dirgantara.
Apa Itu Additive Manufacturing?
Dengan pasar global yang tercatat sampai miliaran dolar dan jutaan unit printer 3D, additive manufacturing menjadi solusi strategis untuk pembuatan produk yang fleksibel, lebih cepat, dan efisien.
Tapi, apa sebenarnya teknologi ini?
Additive manufacturing (AM) adalah proses manufaktur modern di mana objek akan dibangun secara bertahap dengan cara menambahkan lapisan demi lapisan material secara berurutan.
Beda dengan metode konvensional seperti pengeboran atau pemotongan yang sifatnya substraktif, percetakan ini bisa membuat objek langsung dengan model 3D yang sudah Anda desain sebelumnya.
Manufaktur aditif pertama kali populer untuk mengembangkan prototipe di tahun 1981. Orang yang menggunakannya adalah Dr. Hideo Kodama.
Proses ini terkenal sebagai rapid prototyping yang memungkinkan setiap orang membuat model skala objek akhir secara tepat.
Baca Juga: Kesalahan dalam Mendesain Model untuk 3D Printing
Cara Kerja Additive Manufacturing
Setiap teknologi, memiliki cara kerjanya sendiri termasuk manufaktur aditif. Seperti apa cara kerjanya? Cek penjelasannya di bawah ini:
1. Berawal dari Tahap Desain
Sama halnya dengan teknologi pencetakan lainnya, manufaktur aditif berawal dengan desain 3D lebih dulu memakai perangkat lunak CAD/Computer-Aided Design.
Desain ini adalah bentuk digital dari objek 3D yang ingin Anda cetak. Desain CAD, bisa Anda buat dari nol sendiri atau langsung melakukan pemindaian objek fisik menggunakan teknologi 3D scanning.
2. Ekspor File ke Format yang Sesuai
Tahap selanjutnya adalah mengekspor format file CAD tersebut ke format yang kompatibel dengan mesin pencetak 3D. Baik itu menjadi Object File (OBJ) dan Standar Tessellation Language (STL).
3. Tahapan dengan Slicing Software
Setelah menyiapkan file CAD, maka akan berlanjut ke penggunaan slicing software. Perangkat lunak ini memiliki tugas untuk memproses desain, yakni dengan memecah desain 3D yang ada ke ribuan lapisan tipis 2D (2 dimensi).
Kemudian, ribuan lapisan tipis 2D atau sering dapat sebutan ‘layer’ tersebutlah yang akan mesin cetak 3D susun secara bertahap.
Setiap layer, punya ketebalan yang begitu tipis dan umumnya dalam ukuran mikron. Namun, ini masih tergantung pada mesin pencetak 3D yang Anda gunakan.
4. Proses Pencetakan
Jika slicing telah selesai, file tersebut akan berlanjut tahapannya ke mesin pencetak 3D. Kemudian, mesin ini akan membaca semua layer dan secara bertahap akan membangun objek.
Lapis demi lapis, dari bagian bawah ke atas, lambat laun model 3D yang awalnya berbentuk file dan desain, mulai nampak bentuk fisiknya.
Proses ini membutuhkan penambahan material yang presisi sesuai desain yang sudah ada.
Baca Juga: Manufaktur Konvensional Apakah Tergantikan oleh 3D Printing?
Manfaat Additive Manufacturing

Additive manufacturing (AM), memiliki banyak manfaat signifikan dalam industri manufaktur. Ini sejumlah keunggulannya:
1. Tepat untuk Desain yang Kompleks dengan Presisi Tinggi
Penggunaannya sangat tepat dalam pembuatan komponen yang punya geometri kompleks serta detail yang halus. Intinya, desain tersebut sukar tercapai dengan penggunaan metode tradisional.
Hal ini amat memberi dampak terutama untuk industri otomotif dan dirgantara yang mana keakuratan dan performa tinggi sangat penting.
2. Kustomisasi Produk
Teknik manufaktur ini juga unggul dari segi kemampuannya dalam memproduksi barang yang sesuai kebutuhan individu maupun kelompok kecil.
Dalam dunia medis, misalnya, teknologi ini sangat tepat untuk mencetak prostetik yang sesuai dengan anatomi tubuh pasien dengan akurat.
Bahkan, bisa juga terpakai dalam pembuatan implan khusus untuk memenuhi persyaratan unik dari setiap pasien.
3. Produksi On-Demand dan Pengurangan Stok
Keuntungan besar lainnya dari penggunaan manufaktur aditif yakni bisa melakukan produksi on-demand.
Tak seperti metode tradisional yang selalu mengandalkan produksi masal, AM bisa membuat perusahaan Anda memproduksi barang hanya ketika butuh saja.
Tentu, hal ini dapat mengurangi risiko barang yang menumpuk di gudang, stok besar yang tidak terjual, atau kadaluwarsa.
4. Prototipe Cepat dan Pengujian Desain
Salah satu pengaplikasian additive manufacturing adalah pada pembuatan prototipe.
Dengan teknik ini, Anda bisa mencetak prototipe dari desain hanya dalam hitungan jam.
Hal ini membuat Anda dan tim bisa menguji dan memvalidasi konsep lebih cepat dan melakukan iterasi desain berdasarkan hasil pengujian.
Dengan bermanfaat ini, apa itu additive dan penerapannya tentu sangat penting bagi perusahaan maupun individu.
Contoh Additive Manufacturing
Saat ini, Anda akan mudah menemukan pengaplikasian teknik manufaktur satu ini di berbagai industri. Berikut ini sejumlah contoh penerapannya:
1. Industri Otomotif
Produsen mobil populer seperti BMW dan Ford, sudah mengadopsi pencetakan 3D dalam pembuatan prototipe komponen-komponennya.
Ford, contohnya, memakai teknologi ini untuk memproduksi berbagai bagian seperti knalpot, rem, dan komponen interior.
Nah, additive manufacturing akan membantu pembuatan bagian-bagian yang lebih kuat tapi tetap ringan.
Hasilnya, teknologi ini akan membuat produksi komponen kustom bisa sesuai dengan kebutuhan spesifik.
2. Industri Penerbangan
Dalam industri penerbangan, teknologi ini juga populer. Apalagi dalam pembuatan komponen yang kompleks tapi ringan.
Contohnya, teknologi ini sudah diterapkan GE Aviation untuk memproduksi sudut turbin yang efisien.
Komponen tersebut terancang dengan struktur internal yang cukup rumit dan bertujuan meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi berat.
Dengan AM, GE Aviation berhasil mengurangi berat sudu turbin hingga 25% dan berhasil meningkatkan efisiensi aerodinamisnya.
3. Kesehatan dan Kedokteran
Industri kesehatan dan kedokteran juga tak ketinggalan dalam memanfaatkan manufaktur aditif.
Dalam industri ini, kebutuhan utamanya adalah pembuatan implan medis dan juga peralatan kedokteran.
Teknologi ini akan terpakai untuk mencetak implan seperti gigi tiruan dan tulang yang bisa sesuai dengan anatomi pasien.
Contohnya, implan yang sesuai dengan struktur tulang pasien. Hasilnya, tingkat keberhasilan operasi bisa meningkat dan risiko penolakan tubuh berkurang.
4. Arsitektur dan Konstruksi
Industri ini juga sangat terbantu terutama dalam mencetak berbagai elemen bangunan. Sebut saja seperti panel dinding dan komponen struktural.
Teknologi AM, bisa membuat struktur serumit apapun tapi dengan cara yang efisien. ICON, perusahan arsitektur, memakai 3D printer untuk membangun rumah dengan biaya yang lebih terjangkau serta waktu pembuatan yang lebih singkat.
Ingin Memanfaatkan Additive Manufacturing dalam Bisnis Anda? Hubungi Kami
Jika ingin usaha yang Anda bangun lebih efisien untuk urusan prototipe atau ingin membuat komponen maupun suku cadang secara presisi, menerapkan manufaktur aditif adalah keharusan.
Belum ada alat pendukungnya? Sultan 3D Printing bisa jadi solusinya. Hubungi kami sekarang untuk layanan 3D Printing, 3D Design, hingga 3D Scanning terbaik di Indonesia!